Gameplay D’Xavier di PMGC 2025 menuai hujatan karena dianggap terlalu sering “ngendok”. Benarkah strategi ini buruk atau justru efektif di level tertinggi?
Nama D’Xavier kembali menjadi bahan perbincangan panas di komunitas PUBG Mobile global. Bukan karena dominasi kill atau aksi agresif, melainkan karena gaya bermain mereka yang dianggap terlalu sering “ngendok”. Banyak penonton menilai gameplay tersebut membosankan, pasif, bahkan terlihat seperti permainan yang tidak percaya diri. Akibatnya, hujatan pun tak terhindarkan di media sosial.
BACA JUGA : ASUS ROG Satukan Olahraga dan Gaming Lewat Acara ROG Community Gathering “Padel & Play” di Jakarta
BACA JUGA : Roadmap Esports PUBG Mobile 2026: Era Baru Kompetisi Global

Namun, jika dilihat lebih dalam, strategi “ngendok” bukan sekadar berdiam diri tanpa rencana. D’Xavier dikenal mengandalkan penguasaan zona, manajemen posisi, serta pengambilan keputusan yang sangat disiplin. Di turnamen sekelas PMGC, bertahan hidup hingga late game sering kali jauh lebih bernilai dibanding memaksakan duel di awal pertandingan. Placement point yang konsisten bisa menjadi fondasi kuat untuk bersaing di papan atas.
Masalahnya, ekspektasi penonton sering kali bertabrakan dengan realita kompetitif. Banyak fans menginginkan permainan cepat, penuh rush, dan highlight, sementara tim profesional fokus pada peluang menang terbesar. Ketika hasil tidak langsung terlihat maksimal, strategi aman seperti ini pun mudah disalahartikan sebagai permainan buruk.
Pada akhirnya, performa D’Xavier akan tetap diukur dari klasemen, bukan dari seberapa seru gaya bermainnya. Di panggung dunia seperti PMGC 2025, efektivitas strategi jauh lebih penting daripada sekadar memuaskan mata penonton.
Jangan lupa kunjungi SPIN Website untuk update terbaru lainnya, ikuti Instagram dan Youtube kita ya spinners.

